Jumpa Ratusan Pelajar Bermata Cemerlang di Jogja


Ceria itu kami. Gembira ria senantiasa bersama literasi.
Tim Ceria di depan kantin Ceria. Dok.Pri



SIAPA yang menolak plesir ke Jogja? Rasanya tak ada. Saya pun semangat kalau dengar nama Jogja disebutkan. Maka dengan sukacita, bersama dua penulis kawan saya, Lalu Abdul Fatah dan Asril Novian Alifi, kami bergiat literasi ke salah satu kota yang woles di dunia ini, jelang pekan ketiga April 2018, atas prakarsa kawan baik saya sejak kuliah di Fisip Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Isyani.

Piknik literasi ke Jogja ini seperti mengulang perjalanan dengan misi literasi tahun 2017 dan bersama kawan penulis dari Kendal, Afik Rahman, pada akhir Januari 2018 lalu. Agar tidak lupa, perjalanan literasi itu saya abadikan dalam sejumlah catatan, yakni ;


---

O iya, mau cerita sedikit, pertemanan saya dengan Lalu Abdul Fatah, penulis buku-buku perjalanan, sekaligus penyair ini sudah berlangsung sejak lima tahun lalu. Kami bertemu kali pertama di forum literasi di Surabaya, beberapa kali. 

Karena kesibukan-kesibukan, maka pertemuan kami memang jarang terjadi. Meski begitu, kami tetap terkoneksi melalui fesbuk. Hingga bertemu lagi awal Maret lalu, di Pandaan. Catatan pertemuan dengan Ombak Oranye ini saya abadikan di Piknik Bersama para Penulis

Berlanjut kemudian dengan piknik literasi ke Jogja. Sedangkan dengan Asril Novian Alifi, penulis buku Rockstar Teacher, baru kenal saat hendak bertualang ke Jogja. He-he-he. Bolehlah, saya sebut bahwa buku adalah jembatan untuk pertemuan-pertemuan dan petualangan, pastinya.


---

Piknik literasi kami yang pertama adalah menyapa 200-an siswa-siswi SD Karangjati, Kasihan, Bantul Jogjakarta, Jumat (20/4). Tidak menyangka bahwa kehadiran kami, Tim Ceria, yang terinspirasi nama Buletin sekolahan kawan saya, Isyani, ditunggu-tunggu para bocah kelas 3-5.

Sebelum menuju GOR tempat pelatihan literasi dilangsungkan, dengan hangat kami ditemui oleh Kepala Sekolah, Bapak M. Jamroni, S.Pd serta beberapa pengajar.


Kepala SD Karangjati, Kasihan, Bantul, Bpk. M, Jamroni S.Pd bersama pegiat literasi Bantul, Ibu Isyani, S.IP


Mendengar cerita seru pengalaman Pak Kepsek SD Karangjati bertualang ke pulau seberang. Dok. Isyani.




Selfie dulu. Cissss! Dok. Pri




Amazing!

Ratusan siswa sudah duduk rapi di GOR yang berlokasi di belakang sekolah. Seragam mereka hijau-hijau bikin teduh mata. Saya yang biasanya pegang murid paling banyak 30-an itu pun dibagi dalam dua sesi, agak-agak takjub campur keder juga melihat ratusan siswa. Anak segini banyak mau kami apakan? Ha-ha-ha.



Seragam hijau matching sama tembok GOR. Dok. Isyani BP



Keceriaan anak-anak Indonesia. Belajar adalah bermain. Dok. Isyani BP


Saya lihat, kawan saya, Lalu, juga excited. Dengan ruangan penuh para bocah rasa-rasanya kurang efektif untuk menyampaikan materi dengan tuntas. Tapi memang, situasi ini sudah diinfokan oleh Isyanie sebelum hari H.

Saya juga dapat bocoran bahwa murid-murid di sekolah ini rata-rata pintar. Tapi poin itu tidak menjadi catatan penting bagi saya. Karena, saya meyakini, setiap anak pintar dan cerdas. Di mana pun mereka bersekolah.

Setelah profil kami dibacakan oleh Ibu Nur, yang merupakan pengajar di sekolah ini, teman saya Lalu, mendapat giliran pertama untuk menyapa para bocah yang penuh antusias dengan guru-guru tamu di sekolahnya ini.

Sementara saya, entah kenapa tiba-tiba resah, karena mendapati perangkat suara di gedung tersebut ternyata tidak maksimal. Alias suaranya pecah ke mana-mana. Ya secara kami bukan artis yang biasa cek sound sebelum tampil, jadi memang tidak ada agenda untuk cek-cek pengeras suara sebelum tampil.

Kebayang kan, betapa kami akan "konser" dengan kekuatan penuh agar suara kami bisa dijangkau oleh ratusan pelajar ini??

Tapi baiklah, kami tak patah semangat. Yiha!! Saya lihat, Lalu dengan power maksimal berusaha menyampaikan materi, sementara saya dan teman berusaha menjaga kondusivitas ruangan.

Satu, dua anak hingga berderet akhirnya berani untuk berdiri. Lalu, mengajukan tantangan pada mereka satu per satu untuk memancing ide para tunas bangsa ini.

Bagian paling mengharukan adalah ketika lebih dari lima siswa tampil menceritakan pengalaman sedihnya ditinggal Ayah atau Ibunya berpulang kehadirat Ilahi.


Berbagi pengalaman. Dok. Pri


Duet Literasi. Dok. Isyani BP


Hiks, saya yang sedang mengendalikan LCD tak urung terharu juga. Tapi kesedihan itu hanya sementara, ketika Lalu berhasil mengembalikan keceriaan anak-anak dengan gimmick-gimmick dan senam rileksasi.

Materi yang disampaikan Lalu juga menarik. Profil-profil tokoh besar negeri ini ditampilkan satu persatu dengan detil, menjadi semacam motivasi bagi anak-anak untuk bisa meneladani ketekunan mereka dalam berkarya. Dengan ekspresif, penulis buku asal Lombok  ini juga menceritakan sekilas perjalanan hidup Habibie sepeninggal istri tercinta. "Pak Habibie, menuliskan perjalanan hidupnya bersama Ibu Ainun menjadi sebuah biografi yang indah. Begitu cara beliau mengusir rasa sedihnya ketika  kehilangan orang yang dicintainya," katanya.

Setelah hampir 1,5 jam Lalu yang alumnus HI Unair Surabaya ini membakar semangat anak-anak untuk semakin mencintai dunia literasi, tiba giliran saya untuk konser. He-he-he.


Yey! Dapat hadiah. Dok. Isyani BP


Ruangan yang panas rupanya tidak membuat konsentrasi peserta pelatihan menulis secara masal ini pecah. Terbukti ketika saya meminta salah satu anak untuk mempresentasikan ulang materi dari Lalu, dengan gagah berani, seorang siswi tampil dan dengan detil menyampaikan poin-poin disampaikan pemateri sebelumnya. Luar biasa!

Saya yang kebagian menyampaikan materi public speaking dan percaya diri, akhirnya lebih banyak memancing anak-anak untuk berani tampil.


Yuk berani tampil! Dok. Isyani BP



O iya, saat Lalu tampil di sesi pertama, saya diam-diam"menjuri" ratusan cerpen yang dibuat peserta. Kata Ibu gurunya, Nur, anak-anak mendapat tugas itu sehari sebelum kedatangan kami ke sekolahnya.


Kayak promo album terbaru. Dok Isyani BP


Dengan teknik baca scanning, saya memilih beberapa cerpen yang menurut saya apik. Saya minta pemilik karyanya untuk tampil ke depan, dan temannya yang lain untuk membacakan cerita terebut. Wah, ternyata ada penulis karya yang nangis ketika saya sebut namanya. Hi-hi-hi. Kami juga sempat disuguhi hiburan dari anak-anak, yaitu tampilan dalang cilik, Rafael yang membawakan fabel dengan lucu dan unik.


Rafael, pendongeng cilik. Dok. Pri


Pelatihan literasi sepanjang pagi hingga menjelang Jumatan itu menyisakan kenangan di hati saya. Wajah anak-anak penuh kepolosan dengan rasa ingin tahu yang tinggi, antusiasme mereka terhadap kegiatan literasi sungguh-sungguh membuat saya gembira.

Ya betul, literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis saja. Tapi ada lagi yang penting, yakni dengan berliterasi, mengajak kita untuk terbiasa berfikir kritis terhadap fenomena-fenomena sosial dan memiliki kepekaan pada semesta.


Ini lho yang semestinya semakin kita tanamkan pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Bagi kita, yang bergerak di dunia pendidikan, berfikir kritis harus menjadi kebiasaan dan budaya. Pengalaman membaca referensi, kemudian menulis sebagai salah satu upaya merefleksikan dan mengekspresikan diri harus mendapat porsi seluas-luasnya. Dilakukan dengan penuh  integritas, tanpa takut dan penuh kejujuran.



Usai menyapa para peserta pelatihan literasi, kami sempat tour keliling sekolah.  Bangunan sekolah yang terletak di tengah-tengah hutan jati ini menyuguhkan pemandangan sawah dan ladang. Rasanya, anak-anak yang belajar di tempat ini patut berbahagia karena sekolah mereka memiliki laboratorium nyata sekaligus ruang belajar yang dekat dengan semesta.


Pengalaman piknik literasi yang menyenangkan. Selamat belajar dan berkarya para tunas bangsa!
Gigihlah memerjuangkan cita-citamu, jujur dalam sikap, ucapan dan perilaku dan berani bersuara.



Saya paling suka pose di perpustakaan. Foto : Isyani BP






Anak Indonesia Cinta Literasi. Dok. Sekolah


Yiihaaa!!!  Dok. Pri



Anak Indonesia tampil percaya diri. Foto : Isyanie BP




Salam Literasi! Dok. Sekolah




Foto-foto kegiatan literasi di SD Karangjati, Kasihan, Bantul, Jogjakarta bisa diklik di Album Literasi SD Karangjati.



Comments

  1. Buku selain meluaskan wawasan, mencerdaskan pikiran juga mempererat silaturahim...
    salam literasi!

    ReplyDelete

Post a Comment