Safar di Ujung Januari, 2018 (2)

TENTANG Pertemuan.


Tak ada yang lebih menyenangkan dalam menempuh perjalanan, selain melakukan perjumpaan-perjumpaan dengan dia, mereka, orang-orang yang pernah kita kenal hatinya dalam lintasan waktu yang panjang.





Akhir Januari. Musim pertemuan-pertemuan. Dok. Pri




Maka, perjalanan ke Jogja (25-31/01) lalu boleh saya sebut sebagai perjalanan yang sarat agenda pertemuan. Baik yang terencana mau pun tidak.

---

Setelah menemui sahabat baik sejak kuliah di Jogja, 18 tahun lalu yang rumahnya kerap menjadi tempat pulang bagi saya acapkali ke Jogja, pertemuan berikutnya tentu saja dengan "sahabat baik" yang sudah sembilan tahun kami tak jumpa.


Isyani, sahabat yang rumahnya selalu jadi tempat pulang di Jogja. Dok. Pri



Seperti saya pernah tulis sebelumnya pada catatan sebelumnya ; Safar di Ujung Januari, 2018 (1), "janji" bertemu ini kami rapal melalui jalur media sosial. (Terima kasih banyak Mark Zuckerberg, semoga Tuhan selalu berkatimu bersama keluarga).


Sembilan tahun tidak bertemu, lalu perjumpaan macam apa yang bisa diharapkan?  

Apalagi komunikasi yang terjadi selama durasi waktu lebih dari sewindu lebih itu boleh dibilang sangat jarang terjadi. Kalau pun ada, intensitasnya baru terjadi dua bulan terakhir. Rencana bertemu pun baru terbetik beberapa pekan terakhir.

Ya, saya dan sahabat baik "bersepakat" dalam sebuah kesepakatan melalui udara untuk bertemu. Di Jogja. Kota, yang selalu membuat saya ingin jatuh pulang ke sana setiap rindu pada semua segala peristiwa yang pernah saya alami semasa pernah menjadi bagiannya. Kota yang memertemukan kami sembilan tahun silam.

"Perjanjian melalui udara." 

Saya paham, itu tak cukup "mengikat" kami untuk saling menepati. Salah satu di antara kami atau bahkan kedua-duanya bisa mengkhianati atau "desersi" atau "wanprestasi"  dari kesepakatan itu.

Berulang, saya meyakinkan diri, perjumpaan kami adalah kemungkinan yang mungkin. Kalau pun ada yang mengingkari, saya pikir itu sudah menjadi bagian dari ketidakmungkinan yang juga rencanaNya.

---

Seusai rehat, saya pun bersiap menjemput sahabat baik di terminal. Saya memang sudah berjanji, kalau dia datang, saya yang akan jemput dia. Skenario ini saya buat, karena saya lebih dulu tiba di Jogja. Sementara jadwal dia merapat ke kota yang menjadi cita-cita jutaan orang yang pernah menganyam cerita ini, baru tengah hari.

Setelah makan siang dengan sahabat saya, Isyani, saya bergegas meluncur ke Terminal Giwangan.  Sendiri. Itu setelah selarik pesan menyapa gawai saya. 

"Aku sudah di Jombor."

Yang bermakna, sebentar lagi bus yang membawanya dari Semarang menuju Jogja, segera tiba di Terminal Giwangan.

Jarak rumah Isyani dengan Giwangan, hanya sekitar 5 KM, bisa ditempuh sekitar 10 menit. Tapi karena jalurnya melalui Ring Road  yang aman dari kemacetan, maka saya bisa lebih cepat merapat.

Di tempat yang kami sepakati, saya menunggu dia. Hingga tak lama kemudian, akhirnya saya melihat bayangannya.

Ya, saya bertemu sahabat baik saya lagi. Afik Rahman.

Dia menepati janjinya untuk datang dari kota kelahirannya di Kendal, dekat Semarang, sana. Merealisasikan rencana-rencana kecil yang kami susun dalam hitungan hari melalui media sosial.

Jogja. Menjadi tempat yang kami sepakati untuk bersua.

Sebenarnya, kami pernah satu kampus, satu fakultas dan jurusan yang sama. Tapi justru kenal setelah kami sudah lama meninggalkan almamater.

Begitulah perjumpaan. Selalu ada "misteri." Mengapa justru bertemu saat bukan lagi di tempat yang sebenarnya kami pernah menghirup udara yang sama.

----

Sembilan tahun tak bertemu. Tentulah bagi saya ini pertemuan monumental. Saya menghargai setiap perjumpaan-perjumpaan. Apalagi dengan dia, mereka, orang-orang yang pernah saya kenal dekat hatinya.

Pasang surut sebuah hubungan persahabatan, adalah hal biasa. Apalagi diretas jarak yang jauh dan intensitas komunikasi seperti nyala lilin yang tertiup angin di musim hujan.

Sebagaimana samudera yang kadang mengantar angin kesejukan, dan ombak yang mengalun tenang, sering juga laut mengirim pesan berupa badai dan gelombang ganas yang menghantam bebatuan, karang dan mengikis pasir. Persahabatan seperti itu pula.


Salah satu yang membuat jalinan itu tetap terjalin lekat, adalah rasa percaya dan "kesetiaan."


Setia untuk menjaga hal-hal baik, yang terjadi di masa lalu. Setia memelihara dan merawat pertemanan yang terhubung lagi. Setia untuk memenuhi ruang persahabatan ini dengan segala hal yang baik lagi positif. Setidaknya untuk diri sendiri. 



Tak ada penanda yang lebih baik dari pertemuan, selain "merayakan."  Maka, kami pun merayakan pertemuan ini.


Menyapa Jogja. Adalah rencana pertama yang kami wujudkan. Setelah sejenak meletakkan letih di rumah Bantul, kami mulai "berjalan."


Perasaan macam apa pasca sembilan tahun tidak bertemu?


Saya rasa, tak ada pertemuan yang tak melahirkan emosi kegembiraan. Tentu saja, itu yang saya rasakan. Sesuatu.  Jarak yang (sebenarnya) tidak terlalu jauh, kesibukan-kesibukan dan tentu saja kehidupan masing-masing, pastinya pernah secara samar menjadi (semacam) ketidakmungkinan untuk bersua lagi.


Tetapi, apa yang tidak mungkin terjadi di semesta ini?

Saya menghikmati pertemuan ini (lagi-lagi) sebagai bagian dari suratanNya.

Sebagai orang yang memercayai, bahwa setiap peristiwa adalah kehendakNya yang paling baik, maka tak lupa saya berucap syukur untuk "reuni" kecil ini.




Setelah sembilan tahun tak bertemu. Foto : Isyani B.P

---


Jogja masih sama seperti dulu, 18 tahun lalu, sembilan tahun silam dan tahun lalu. Saya masih ingat, setiap sudutnya pernah ada kisah tertinggal di sana.

Saya yakin, siapa pun, mereka yang pernah meniti hari-hari di tempat ini, sempat menitipkan kisah-kisah. Bahkan, ketika sudah tak lagi bermukim di Jogja, sesungguhnya hati dan pikiran mereka tak benar-benar pergi dari sini. Ada cerita, ingatan dan memori yang tertinggal dan "sengaja ditinggal"  di Jogja, yang sewaktu-waktu diziarahi saat rindu hadir mengetuk palung hati.


Bertemu sahabat. Itu yang selalu saya sempatkan setiap memeluk kota ini lagi. Bersyukur, saya masih banyak kawan yang menetap di Jogja, sehingga setiap kali pulang ke mari, saya tak pernah benar-benar sendiri.

---

Bersama Afik, saya menyusuri Jogja. Menyapa sahabat baik, yang kerap saya datangi baik sendiri atau berdua dengan suami. Mas Uki, owner Hotel Munajat Backpacker, di bilangan Malioboro. Beliau saya kenal 14 tahun lalu, saat  saya masih menjadi reporter di sebuah media. Mas Uki pernah menjadi narasumber dan ketika saya tak lagi bekerja di media, kami tetap menjadi kawan baik. Sampai hari ini.

Bertemu Mas Uki untuk menunaikan janji saya, menyinggahinya saat ke Jogja dan mengajak Afik bertemu beliau untuk bicara  buku Pulau Kekasih.


Baca juga ; Tentang Pulau Kekasih

Beruntung, Mas Uki sedang tak ke mana-mana. Padahal, siang itu seharusnya sudah bersiap ke Pulau Bawean. Tapi, karena cuaca tak bersahabat, maka perjalanannya ditunda.

Menjadi ruang bagi kami untuk berjumpa lumayan lama.

Seperti biasa, setiap bertandang, saya selalu "nagih" minum kopi. Hotel Munajat memang sudah tak asing buat saya. Seperti rumah sendiri. He-he-he.

Mas Uki yang selalu hangat setiap bertemu sahabat, tak lupa mentraktir kami jajanan Trubus. Menambah semarak perjumpaan kami sembari menyesap kopi. (Terima kasih Mas.....).




Bertemu Mas Uki. Dok. Pri
---





Menjelang senja, kami bergeser lagi ke selatan Jogja. Melihat laut. Merealisasikan cita-cita saya yang sudah berbulan-bulan merindukan hawa laut.


Saya suka laut. Melihat ombak mengejar pasir, warna biru air laut yang tak sepenuhnya biru, dan pertemuan garis langit dan samudera, selalu membuat saya penasaran.

Saya mencintai laut. Perjumpaan sungai-sungai kecil dari gunung, bebukitan, kota dan perkampungan, yang bermuara di laut adalah peristiwa yang selalu menarik perhatian saya.

Pertemuan. 

Alam pun memiliki cara "bertemu" dan "merayakan" perjumpaan. Kemegahan pertemuan itu dipungkasi dengan matahari yang pelan-pelan turun seperti hendak mencium batas langit dan laut dengan diam-diam. Lalu, berjingkat menghilang ditelan gelombang yang menjauhi pantai. Pulang. Sunset. 


(Saya jadi teringat, setiap pulang ke Bali, mengunjungi pantai adalah agenda wajib bersama suami. Sunset yang paling puisi adalah di Tanah Lot, yang tak jauh dari rumah saya. Para turis berkumpul di tepi pantai, sama-sama mengabadikan matahari tenggelam, lalu bertepuk tangan meriah sekali, ketika matahari dijemput ombak, lalu menyelinap seperti hilang. Tepuk tangan yang seperti luapan rasa syukur pada Pencipta Semesta yang mengijinkan matahari pulang ke ufuk barat dengan puitisnya).


Melihat laut. Merayakan pertemuan. Dok. Pri


Setelah mengantar matahari pulang di langit barat, kami pun kembali ke Jogja. Menyiapkan energi untuk merayakan pertemuan kami yang sesungguhnya, keesokan harinya. (Saya akan kisahkan di bagian lain.pen).




----

Ubun-ubunnya Jogjakarta. Dok. Pri


Jogja adalah kota pertemuan. Kota perjumpaan-perjumpaan membahagiakan. Jika ada perpisahan, saya yakin, tak sepenuhnya benar-benar perpisahan. Karena, akan ada cara untuk kembali bersua. Ini hanya soal perjalanan waktu dan kesetiaan hati kita untuk menunggu momentum itu. Saya percaya itu!

Perjalanan di Jogja kemarin juga memertemukan saya lagi dengan seseorang. Kawan pertama yang saya kenal ketika menyapa kali pertama almamater  tercinta.

Berbeda dengan berjumpa Afik yang memang ada dalam peta rencana saya, kami, meski dirancang kilat, pertemuan ini kali justru tanpa rencana-rencana. Ibarat sebuah peta, benar-benar buta.

Ceritanya, setelah mampir ke rumah sahabat saya saat ngekost di Jogja masa kuliah, Selasa (29/01), saya jalan-jalan sendiri seperti biasa keliling Jogja.

Saya memacu motor mengandalkan ingatan menuju kota. Gerimis kecil menerpa tubuh saya. Jogja memang sedang melankolis-melankolisnya saat saya berkunjung.

Menyapa Tugu Jogja. Sepi. Barangkali karena langit yang sering mengantar hujan, sehingga membuat kawasan ini tak seperti biasanya.



Menikmati Tugu Jogja yang hening. Dok. Pri



Saya mengambil sejumlah gambar sembari menikmati suasana malam yang tak pernah mengenal malam di tempat ini.

Satu persatu ingatan dan kerinduan kembali datang meski saya tak punya kenangan di tempat ini. Tetapi emosi mana yang tidak pecah ketika menghikmati jantung kota ini?

Terutama bagi kita yang pernah bertahun menjadi titik kecil kemeriahan sekaligus lara kota ini.

Malam tak benar-benar malam ketika saya melanjutkan perjalanan lagi. Melintasi jalan yang menjadi meminjam lirik sebuah lagu, "ubun-ubunnya" Jogjakarta. Malioboro.


Biasanya, saya duduk-duduk di salah satu bangku kosong di sepanjang jalan ini. Menikmati musik yang dimainkan musisi jalanan. Tapi malam itu, saya memutuskan untuk menyapa Benteng Vrederburg di ujung Titik Nol.

Usai memarkir motor, saya sempatkan mengisi perut. Seporsi sate ayam dengan lontong mengganjal perut saya yang entah kenapa selalu lapar di kota ini. Ada beberapa peristiwa kecil pernah saya alami di tempat ini, di tahun-tahun lalu.

Merekam suasana Vrederburg seperti membawa saya pulang pada rasa sepi yang tiba-tiba datang.

Setelah makan, saya berjalan melihat suasana dan kemeriahan, sembari berharap, ada satu, dua orang yang saya kenal. Sehingga saya tak benar-benar sendiri di tempat itu.

Setelah puas merekam keriuhan Titik Nol, saya duduk-duduk di salah satu bangku kosong, menghadap ke Istana Negara. Menikmati suasana jalan raya yang masih padat meski malam semakin larut. Segelas kopi menjadi teman. Iseng, saya menulis status check in di akun fesbuk. 



Sendiri tak benar-benar sendiri di kota ini. Dok. Pri


Eh tak lama, sebuah komentar masuk. Dari kawan lama di Pekanbaru. Komentar singkat memastikan saya sedang di Jogja. Tanpa pikir panjang, saya menjawab singkat dan mengajak bertemu jika memang dia di Jogja.


Saya pun mengirim kontak pribadi saya jika dia ingin menghubungi. Yang dibalasnya pagi hari, dengan mengirim capture tiket penerbangan Pekanbaru-Jogja. 

Tentu saja saya merasa surprised. 18 tahun lalu menjadi teman, meski tidak satu jurusan tapi nyaris tiap hari kami ketemu. Doi, juga salah satu "selebriti" di fakultas kami, karena kesibukannya di sejumlah organisasi. Membuat wajahnya tak asing di kampus.

Berkat dia juga, saya mengenal Kota Jogja. Karena, dia, teman pertama yang  dengan segala kebaikannya mengajak saya bertualang di Jogja saat awal-awal kami menjadi mahasiswa. 

14 tahun lalu, kali terakhir kami berjumpa. Pasca lulus, kami terpencar. Hanya terhubung melalui akun fesbuk, untuk hal ini, sekali lagi terima kasih kebaikan  Zuckerberg. (Semoga segala berkat baik, untukmu).

---

Akhirnya kami bertemu. Gusrianto. Ya, dia salah satu sahabat baik saya. Setelah sejumlah acara (pertemuan juga, akan saya tulis di bagian lain. Pen),  dan dia juga ada urusan pekerjaan, maka kami pun berjumpa. Saya menyinggahi tempat dia menginap di salah satu hotel di Malioboro.

Seperti pesan yang dia kirim sebelumnya, Sebagai pecinta minum kopi, tentu saja kami akan merayakan perjumpaan ini dengan ngopi-ngopi. Saya merekomendasikan sebuah tempat ngopi kekinian di utara Jogja.

Setelah berbincang sebentar, bertiga kawannya, kami meluncur ke kawasan Kaliurang. Kopi Klothok Pakem, tujuan kami. 

14 tahun tak bertemu, lalu bersua lagi di Kota Jogja. Benarlah kota ini begitu dahsyatnya. Menjadi tempat pertemuan bagi mereka yang pernah tinggal dan kemudian terserak di mana-mana.

Ada banyak cerita kami tukar sepanjang perjalanan ke Kaliurang.

Tentang masa-masa di almamater, keluarga tercinta kami, kawan-kawan dan para sahabat dan banyak lagi. Satu doa terselip, semoga suatu hari nanti, kami bisa berjumpa lagi bersama keluarga masing-masing. Tentu menyenangkan dan membahagiakan, saya bisa berjumpa istri sekaligus ibu bagi tiga juniornya yang cantik-cantik, ganteng dan tidak pernah saya lewatkan postingannya tentang kekasih hatinya ini di fesbuk. Setelah selama ini hanya bisa bertemu dan berkomunikasi melalui akun fesbuk.  Begitu pun dia beserta keluarga bisa berjumpa suami saya dan (semoga) anak-anak kami. 


Kopi Klothok riuh oleh para tamu ketika kami tiba. Rumah joglo lawasan dengan pernak-pernik "Jawa banget" menyambut kami bertiga.

Tiga gelas kopi klothok kami pesan. Lalu, makan malam dengan menu sederhana menjadi teman untuk mengurai kerinduan-kerinduan pada Jogja. 


Pertemuan yang menyenangkan. 





Merayakan pertemuan setelah 14 tahun tak bersua. Dok. Pri


Kami melanjutkan kopdar ke Klinik Kopi. Salah satu tempat ngopi kekinian yang hitz karena sempat menjadi pertemuan Rangga dan Cinta dalam Ada Apa dengan Cinta 2 setelah 14 purnama tak berjumpa.

Sayang, ketika tiba di sana, Klinik Kopi sudah tutup. Kata yang jaga, kedai tersebut hanya buka pukul 16-20 saja.

Baiklah. Kami belum ditakdirkan ngopi di tempat ini. Tapi kami sempat berpose di depan kedai biar afdol pernah singgah ke tempat ini.

---

Kembali menyusuri Jogja, kembali turun ke kota.  Mencicip kemeriahan Malioboro sebelum akhirnya hujan melumat kegembiraan para pelancong yang memadati inti pusar Jogja tersebut.

Malam semakin larut, tetapi Jogja tak pernah benar-benar sepi. Setelah melanjutkan perbincangan sebentar di lobi hotel, saya pamit. 

Menyusuri Jogja lagi. Sendiri. Menghadirkan kerinduan-kerinduan pada kenangan-kenangan yang pernah terjadi di kota ini.

Tak ada perjumpaan yang rahasia di kota ini. Saya menuliskannya, agar hati  siapa pun yang pernah mencicip segala perasaan di kota ini, bisa ikut bernostalgia.  Mengingat semua kenangan baik yang pernah menghampiri. Pun  bagi saya, agar tidak pernah lupa. Bahwa kota ini begitu baiknya. 

Terima kasih Sahabat Baikku, Mas Afik Rahman, untuk  sembilan tahun persahabatan ini, Terima kasih banyak sudah menyempatkan bertemu  dan menepati "janji" perjumpaan ini. 

Terima kasih banyak Sahabatku, Gusrianto, untuk persahabatan selama 18 tahun dan kopdar kita yang menyenangkan, setelah 14 tahun tak pernah berjumpa.

Terima kasih Isyani Budie P, untuk semua hal-hal baik yang terjadi untukku selama di Jogja,  juga berkat kebaikanmu. 


Semoga setiap pertemuan akan menjadi doa-doa kebaikan untuk kita. Bertemu lagi suatu hari, dengan perjumpaan yang lebih baik dan mengesankan. Semoga segala kebaikan yang pernah kuterima dari kalian, akan berpulang menjadi kebaikan yang jauh lebih baik untuk kalian, melebihi yang pernah kuperoleh.




(Bersambung).

Ditulis dengan sepenuh kerinduan pada Jogja dan pertemuan-pertemuan serta perjalanan-perjalanan berikutnya,  Kamis (8/02) lepas Subuh-09.20 WIB.























































Comments