Karena Saya Bukan Anak Raja, Maka Saya Harus Menulis

Guru tamu untuk kelas fotografi di Sekolah ABC. Dok : Pribadi

KALAU sebelumnya saya menuliskan tentang mudahnya menulis, ini kali saya akan bercerita banyaknya benefit yang kita peroleh dari menulis. Terutama jika kita produktif menulis di media.

Saya memulai menulis sejak usia kanak-kanak, tepatnya kelas 3 SD.  Mulai memetik buahnya saat SMP. Ketika karya-karya saya dimuat di media baik cetak maupun televisi, saya mendapatkan hadiah dari media : Tempat pensil, kaus, dan wesel dengan nominal lumayan. Ini yang menarik. He-he-he-he.

Menerjuni dunia menulis itu banyak senangnya. Ketika jadi mahasiswa dan ikut persma di kampus, saya merasakan benar bahwa aktivitas menulis jika diseriusi ternyata bisa menjadi pintu peluang dan kesempatan yang semuanya adalah rejeki.

Dengan berbekal keberanian (diberani-beranikan, sebenarnya) dan ID persma, saya bisa menyusup masuk banyak acara bagus semacam konferensi, workshop, talkshow dengan narasumber keren-keren secara gratis. Padahal, untuk jadi peserta diharuskan bayar puluhan ribu. Setelah ikut acara, hasilnya saya tulis di media dan saya kirimkan ke panitia atau narasumber. Berikutnya, bisa dipastikan, setiap ada even lagi saya dapat undangan khusus dari panitia atau narasumber. Cerdik bukan? Maklumlah, saya hanya mahasiswa jelata, jadi harus pinter-pinter memutar cara untuk bisa dapat ilmu di luar kelas dengan gratisan.

Karena menulis pula, akhirnya saya bisa diterima kerja di dunia media dengan mudah. Kesempatan itu saya gunakan sebagai ruang bekerja sekaligus belajar apa yang belum saya pelajari ketika di bangku kuliah.

Setelah resign dari dunia media dan menerjuni bidang lain, tidak otomatis aktivitas menulis terhenti begitu saja. Saya masih sering menulis, meski kebanyakan ada di folder laptop dan hanya saya baca sendiri.

Sampai akhirnya, saya menyadari bahwa dunia menulis adalah bagian dari hidup saya. Tahun 2009, saya mulai coba-coba lagi aktif menulis sebagai penulis lepas. Lumayan, karya-karya saya tembus di media lokal.

Kesibukan mengajar dan mengurus rumah (2010) terkadang melahirkan semacam kejenuhan akut. Maka, sejak itu saya mulai rutin menulis sebagai refreshing.

Tidak terbatas menulis cerpen dan puisi saja, saya mulai belajar lagi bagaimana caranya menulis opini dan resensi buku. Jadi ingat, dulu jaman sekolah/kuliah, setiap baca koran hari Minggu, rubrik resensi buku adalah favorit saya, karena bisa update judul-judul terbaru. Sekaligus dalam hati berbisik, ”Kapan ya aku bisa menulis resensi buku di koran?”

Semangat itu yang akhirnya membuat saya mulai membuka-buka buku dan menulis  review. Awalnya, hanya saya publikasikan di catatan facebook saja. Tapi, berikutnya untuk buku-buku terbaru, hasil menulis resensi saya kirim ke koran dan eh dimuat. Senang dong pastinya.

Begitu pun tulisan opini dengan berbagai tema, rata-rata sih saya suka menulis tentang pendidikan dan dunia literasi, juga rutin muncul di media.



Resensi buku di Tribun Jogja. Dok : Pribadi

Menulis resensi di media buat saya adalah tanggungjawab moral ketika selesai membaca buku. Rasanya kalau hanya baca untuk diri sendiri, ada yang kurang. Saya tahu pasti, di luar sana banyak orang yang suka baca buku tapi memiliki keterbatasan entah akses ke toko buku susah atau bujet yang tidak memungkinkan. Saya pernah mengalami dua-duanya. Ketika tahu ada buku bagus, ternyata harganya mahal tak terjangkau kantong. Maka, ketika ada yang menuliskan resensinya di koran, saya sangat bersyukur dan berterimakasih. Dengan begitu, saya bisa menunda beli bukunya sampai memiliki uang cukup. Tapi saya sudah punya gambaran mengenai isinya, sehingga ketika ada yang mengajak berdiskusi soal buku tersebut saya tidak tulalit.

Tinggal di kota kecil yang jauh dari toko buku juga semacam siksaan buat saya. Kalau ingin beli buku bagus, harus ke Malang atau Surabaya. Paling dekat di Sidoarjo. Itu pun belum tentu toko bukunya punya buku yang saya mau. Maka ketika mendapati ada penulis yang membuat catatan buku yang kebetulan saya inginkan, saya sangat berterimakasih.

Sampaikan ilmu walau hanya satu ayat.

Menulis buat saya adalah melaksanakan sebagian peran untuk membagikan ilmu yang kita miliki. Saya percaya, semakin sering kita membagikan ilmu,  maka Allah akan mencurahkan ilmu baru kepada kita. Bukankah ilmu Allah tak terbatas, jikalau air laut dijadikan tinta, maka masih belumlah cukup untuk menuliskan semuanya.


Menulis di media ternyata bisa menjadi pembuka pintu rejeki. Acapkali ada resensi buku dimuat, saya segera mengirimkan bukti terbit korannya ke penerbit buku. Biasanya, penerbit buku akan mengirimkan hadiah berupa buku atau uang. Lumayanlah ya, bisa menghemat anggaran beli buku. Tak terhitung sudah berapa buku yang saya dapat gratisan dari penerbit. Plus dapat undangan untuk mengikuti acara yang diadakan penerbit. Sering pula dapat kiriman suvenir dari penerbit.

Beberapa media mainstream pun juga memberikan honor lumayan besar untuk setiap tulisan yang dimuat. Langsung ditransfer ke rekening bank kita. Itulah sebabnya penting setiap mengirimkan naskah ke media untuk tidak lupa mencantumkan nomer akun bank dan NPWP. Sehingga memudahkan redaksi untuk mengirim honorarium apabila tulisan kita dimuat.




Menulis opini di media pun ada rewardnya. Bisa untuk ngopi-ngopi dan jalan-jalan tipis-tipis. Makanya, kalau saya kerap pergi-pergi, biasanya sih itu habis terima honor menulis. Qi-qi-qi.. 

O iya saya pernah juga dapat hadiah gawai keren dari sebuah penerbit karena memenangkan lomba menulis resensi buku.

Benefit lain adalah, beberapa kali diundang untuk jadi juri tamu dalam lomba menulis dan sering pula diundang untuk berbicara mengenai dunia kepenulisan. Setiap ada permintaan mengisi acara semacam ini, saya selalu usahakan bisa. Terus terang ini menyenangkan. Saya bisa ketemu banyak teman baru, dan lebih penting lagi bisa kembali memunguti ilmu dari mereka yang datang. Di forum macam ini, saya selalu mengajak peserta untuk berbagi pengalaman. Jadi tidak hanya saya saja yang berbicara di depan.


Fun Journalistic & Photography di Sekolah Citra Berkat. Diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah di Pasuruan. Dok : Pribadi


Mengajar penulisan kreatif untuk siswa-siswi SD Banyuripan, Bantul, Jogjakarta. Dok : Pribadi. 



Bersama peserta penulisan kreatif di SD Banyuripan, Bantul, Jogjakarta. Dok : Pribadi


Dari dunia menulis pula saya dapat tawaran jadi pengajar untuk ekstrakurikuler di beberapa sekolah untuk materi jurnalistik dan penulisan kreatif. Datang ke sekolah hanya saat jam mengajar saja. 

Dengan mengajar, saya harus banyak belajar lagi. Karena tantangannya sangat kompleks. Tidak hanya menyampaikan materi saja, tapi bagaimana membuat peserta didik yang saya ajar senang belajar bersama saya, lalu termotivasi untuk menulis dan syukur-syukur berprestasi. Rasanya senang dan membanggakan ketika ada karya anak-anak didik yang menang lomba atau lolos di media. 
Itu melebihi ketika saya dapat reward dari siapa pun.


Tulisan anak didik peserta ekstra jurnalistik di Tribunnews/Harian Surya. Dok : Pribadi


Menulis itu menyenangkan. Ini juga upaya kecil mengumpulkan tabungan warisan untuk anak-anak dan generasi saya. Karena saya bukan anak raja yang berkelimpahan materi, maka saya harus menulis.

Mudah-mudahan, saya bisa terus konsisten menulis apa pun, kapan pun dan bagaimana pun situasinya.

Teman-teman juga ya,....Ayo semangat menulis!






Comments