Sunday, September 24, 2017

Belajar Budaya dari Pernikahan

MUSIM kondangan baru saja berlalu. Saat ini memasuki bulan Muharam yang bagi sebagian masyarakat Jawa, ada kepercayaan bahwa bulan Suro menurut penanggalan Jawa sebaiknya tidak menggelar hajatan. Maka, tak heran, kalau sepanjang bulan lalu, undangan mantenan dan sunatan di mana-mana. Ada lo teman saya yang menerima belasan undangan sepanjang bulan besar, yang baru saja berlalu.

Lain lubuk lain ilalang. Bulan ini  bagi masyarakat Bali justru bulan baik untuk menghelat acara kawinan, potong gigi, ngaben dsb.
  
Nah, bicara pernikahan dengan prosesi adat, saya sudah pernah datang ke acara pernikahan adat Sunda, Padang, Bugis, dan Bangka. Yang paling sering sih kawinan adat Jawa (secara tinggal di Jawa) dan dulu pernah beberapa kali ke undangan manten ala adat Bali. O iya, untuk masyarakat  Hindu Bali ada empat kasta : Brahmana,  Ksatria, Waisya dan Sudra. Saya sudah pernah menghadiri mantenan kasta Ksatria dan Sudra ini waktu jaman kerja di Bali. Kalau upacara adatnya sih hampir sama prosesinya. Saya tidak terlalu paham detilnya. Yang saya tahu, riasan manten untuk masing-masing kasta berbeda.




Pernikahan adat Batak  yang dihelat Astrid Tiar. Ambil di Net.


Nah, salah satu kerjaan saya kalau lagi nganggur, stel youtube pesta pernikahan adat. Setiap nyetel video kawinan, rasanya senang, seperti ikut merasakan kegembiraan di dalam acara tersebut. Hi-hi-hi-hi.

Paling sering saya stel sih, video perkawinan adat Batak. Kebetulan, saya belum pernah melihat secara live atau dapat undangan kawinan pakai adat Batak. Siapa tahu ya, kapan-kapan ada undangan pernikahan dengan tata cara adat Batak, saya usahakan datang kalau ada rejeki. Amiin.

Terus terang, saya takjub setiap melihat pesta resepsi ala Batak ini. Semua video yang saya stel (ada puluhan video pesta pernikahan adat Batak sudah saya lihat) memertunjukkan kemeriahan sekaligus kerukunan baik dua keluarga besar pihak pengantin dan para undangan yang hadir.

Pada prosesi pernikahan pasti ada musik dengan lagu-lagu daerah, banyak lagunya, saya cuma hafal Sinanggar Tullo. He-he-he-he. Lalu semua anggota keluarga ikut bergoyang  dengan gerakan tangan yang unik. Tua, muda ikut ambil bagian berjoget, beberapa ada yang nyawer. Menariknya lagi, semua yang hadir di acara ini, kalau laki-laki pada rapi mengenakan jas lengkap dengan dasi ( Ya ada juga yang berbatik). Nah, kalau perempuannya pakai busana ala kebaya dengan warna ngejreng dipadu bawahan kain.  Tidak ketinggalan baik laki-laki maupun perempuan melengkapi busana mereka dengan kain tradisional kebanggaan yakni ulos yang bagus-bagus. (Katanya, ulos juga bermacam-macam peruntukannya).


Ada lagi yang membetot perhatian saya yaitu semacam keranjang dari anyaman dengan model tinggi ditaruh di atas kepala oleh Ibu-ibu. Saya tidak tahu apa nama keranjang itu. (Langsung googling dan menemukan kalau nama keranjang anyaman tersebut adalah "tandhok"). Hebatnya, sambil menyunggi keranjang aneka warna itu, mereka sambil bergoyang. (Ini mirip dengan perempuan Bali kalau mereka pergi sembahyang atau ke acara adat, menyunggi sesaji buah atau bunga di kepala dengan berkebaya dan bersandal tinggi tanpa takut jatuh). Isi keranjang tinggi yang dibawa kaum Ibu di acara kawinan tersebut ternyata,  kebutuhan pokok;  beras, gula, kopi dsb. Kalau di Jawa, mungkin bawaan itu semacam hantaran.

Pada arak-arakan Ibu-ibu yang membawa tandhok di kepala itu juga terlihat ada yang membawa kasur, tikar serta bantal guling juga dengan cara disunggi. Kalau bawa perlengkapan tidur ini mirip dengan pernikahan adat Bugis, mempelai laki-laki membawakan tempat tidur lengkap, meja rias dsb ke pihak perempuan.

Sepanjang acara pesta itu ada pemandu acara yang berbahasa Batak. Di antara keriuhan musik, saya dengar ada kata ”hula-hula", lalu menyebut nama marga seperti, ”Raja Hutabarat”, ”Marpaung” , ”Tampubolon”, kadang dengar juga, "Nainggolan",  ”Hutasoit", dsb. 




Keranjang  anyaman di atas kepala. Ambil di Net.


Kemudian, terlihat dua pengantin duduk di kursi, menerima ulos indah-indah dari anggota keluarga yang datang. Bisa ada puluhan ulos yang disampirkan ke bahu mempelai di prosesi mangulosi yang diiringi dengan lagu-lagu Batak itu. Yang mengharukan adalah ketika para tetua sambil menyampirkan ulos, mereka membisikkan wejangan pada pengantin. Hiks, saya ikutan terharu, meski tidak mengerti bahasa Batak. Mungkin artinya, "Semoga berbahagia, jadi suami-istri saling cinta, sayang, menghormati," gitu kali ya....

Melihat video kemeriahan pesta pernikahan adat Batak itu, tak urung saya mikir juga, berapa duit digelontorkan untuk menggelar acara itu?

Semua video yang sempat saya lihat menunjukkan banyaknya undangan yang hadir. Ratusan bahkan ribuan orang memeriahkan bersatunya dua insan itu ( Seperti di pernikahan Judika dan Duma Silalahi, lalu ada Alex Rudiart dan Novita).


Guyub dan rukun di pernikahan adat Batak. Ambil di Net.

Menarik lagi, saat lihat acara makan-makan di  video pesta itu kalau di gedung, modelnya bukan yang seperti biasa kita lihat beberapa meja dan gubuk berisi makanan, lalu tetamu antri ambil makanan. Tapi meja panjang dengan kursi yang bisa memuat 10-30 orang. Ada puluhan meja panjang di dalam satu gedung. Lalu, di atas meja, ada sejumlah menu, cerek air, botol minuman dan termos nasi. Mereka yang hadir akan makan sama-sama setelah upacara adat selesai. Saya penasaran, menu untuk tamu-tamu itu apa saja, he-he-he. Patut diacungi jempol, di acara makan itu, semua tamu duduk manis, tidak ada yang makan sambil berdiri. Terlihat indah sekali.


Ribuan undangan hadir di upacara pernikahan adat Batak. Ambil di Net.


Kebayang, nominal untuk menghelat hajatan akbar dengan ribuan tamu undangan dengan upacara adat komplit ya? Belum lagi rangkaian prosesi pendahuluan yang digelar sebelum-sebelumnya. Pasti tak cukup puluhan juta. 


Saya sendiri waktu menikah, tidak pakai acara adat. Bingung juga kalau pakai acara adat. Mau adat mana yang dipakai, secara mengalir beberapa darah baik saya atau suami. Jadi pilih jalan tengah saja, tidak pakai adat-adatan.

Ini (sebenarnya) lebih ke pertimbangan karena saya tidak suka ribet. Benar-benar tak tahu adat, ya! He-he-he.

Pernikahan dengan tata cara adat ini memang bagian dari kekayaan budaya nusantara. Saya yakin, bagi sebagian besar orang, menggelar acara pernikahan dengan prosesi adat lengkap selain menjadi kebanggaan juga bagian dari upaya melestarikan budaya bangsa. Bagi awam, ini juga bisa menjadi media untuk belajar mengenal adat dan budaya lain yang tumbuh di tanah air.


Semoga sebentar lagi, saya dapat undangan menghadiri pernikahan dengan adat Batak dan adat-adat dari daerah lain.  Jadi bisa melihat secara live beragam pesta pernikahan secara adat yang indah itu.





No comments:

Post a Comment